"Gaya hidup konsumtif mengacu pada perilaku boros atau berlebihan yang dapat memberi dampak buruk bagi seseorang yang terbiasa melakukannya. Simak pembahasannya.”
Gaya hidup konsumtif dan perilakunya dapat mendorong seseorang membeli dan memiliki lebih banyak barang demi mendefinisikan identitasnya lewat apa yang dimiliki.
Sebelum memahami lebih jauh mengenai gaya hidup ini, Anda dapat mengetahui cara-cara menabung yang tepat berdasarkan pendapat para pakar keuangan.
Gaya hidup konsumtif merupakan gaya hidup individu yang kerap membelanjakan uang tanpa pertimbangan matang. Perilakunya mengacu pada tindakan berlebihan saat membeli barang.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat bahwa konsumtif berarti bersifat konsumsi yang hanya memakai dan tidak menghasilkan sendiri.
Seseorang dengan gaya hidup ini biasanya tidak sebatas memikirkan kebutuhan dasar lagi serta dampak jangka panjang dari pemborosan yang dilakukannya.
Kerugian akibat gaya hidup ini dapat menyebabkan pengeluaran uang belanja begitu tinggi, apalagi untuk barang-barang yang bukan prioritas. Seseorang mungkin saja sulit mengontrol nafsu belanjanya akibat perilaku boros.
Berikut adalah beberapa ciri gaya hidup konsumtif yang perlu Anda ketahui dan hindari:
Pembelian secara impulsif atau impulsive buying merupakan kecenderungan konsumen membeli barang dan jasa tanpa perencanaan matang.
Pembelian yang dilakukan orang impulsif adalah secara spontan dan dipicu oleh emosi dan perasaan.
Gagal membuat rencana sama saja dengan merencanakan kegagalan, terutama dalam perencanaan keuangan. Gaya hidup konsumtif dapat mendorong Anda untuk tidak memiliki rencana keuangan yang matang.
Padahal perencanaan keuangan sejak dini dapat memberikan Anda fleksibilitas lebih banyak ketika terjadi komplikasi dalam kehidupan.
Pemegang kartu kredit umumnya akan melakukan pembayaran secara penuh atau dicicil di waktu yang telah disepakati. Skema ini merupakan salah satu jenis pinjaman jangka pendek lewat platform digital.
Pelaku gaya hidup konsumtif dapat memakai kartu kredit berlebihan hanya untuk memenuhi hasrat membeli atau menggunakan barang tanpa ukuran yang tepat.
Sebaliknya, seseorang dengan pengendalian diri yang baik dan kuat akan mampu menahan diri serta lebih bijak dalam menggunakan kartu kredit maupun sistem pay later.
Seseorang juga bisa saja melakukan perilaku negatif seperti pencurian barang atau uang ketika keinginannya tidak terpenuhi dan mulai melakukan segala cara untuk mendapatkannya.
Hal ini menunjukkan, perilaku atau tingkah laku negatif dapat timbul kapan saja akibat gaya hidup konsumtif seseorang dan amat berlawanan dengan gaya hidup hemat atau frugal living.
Selain ciri-ciri di atas, ciri-ciri lain dari orang dengan gaya hidup adalah mudah terbujuk rayuan penjual, merasa tidak enak pada penjual, hingga terlalu menggebu-gebu saat ingin membeli barang hanya untuk keinginan sesaat.
Baca Juga: 4 Contoh Passive Income dan Manfaatnya yang Menjanjikan
Terdapat dua faktor penyebab seorang individu melakukan gaya hidup konsumtif, yaitu faktor internal dan eksternal yang keduanya saling berkaitan.
Ini merupakan satu-satunya faktor internal. Perlu Anda ketahui bahwa motivasi seseorang dalam membeli dan menggunakan barang atau jasa memang berbeda-beda.
Namun, penyebab seseorang melakukan gaya hidup konsumtif adalah dorongan dari dalam dirinya sendiri untuk menggunakan dan memiliki semua yang diinginkan.
Misalnya, membeli pakaian dari brand terkenal, membeli gadget terbaru dan tercanggih, atau nonton konser di kategori VIP tanpa memikirkan keuangan untuk jangka panjang.
Media periklanan menjadi salah satu penyebab seseorang membeli dan menggunakan barang atau jasa akibat mudah tertarik atau terpengaruh hal-hal yang dipromosikan lewat iklan.
Iklan dapat mendukung ideologi konsumerisme, bahkan gencar memamerkan gaya hidup glamor yang hanya bisa dicapai melalui kepemilikan barang-barang tertentu.
Faktor ini dapat memicu perasaan tidak puas seseorang dan kebutuhan artifisial yang terus-menerus perlu dipenuhi.
Ini merupakan faktor eksternal, yaitu ketika seseorang membeli dan menggunakan barang atau jasa demi memenuhi gaya hidup hanya agar tidak “ketinggalan zaman”.
Faktor ini masih berelasi dengan motivasi setiap individu yang berbeda, karena gaya hidup berkaitan dengan keputusan seseorang untuk menahan diri atau mengikuti arusnya.
Misalnya, urgensi membeli pakaian adalah menutup tubuh. Namun, dalam pemahaman yang lebih konsumtif, pakaian haruslah yang memiliki nilai branding tinggi menonjolkan aspek simbolik tertentu.
Seseorang dapat membeli dan menggunakan barang atau jasa karena cenderung mengikuti suatu referensi dari anggota kelompok yang diacunya.
Ini juga mengacu pada tren pembelian dan penggunaan barang atau jasa seseorang yang dilakukan adalah cara meniru anggota kelompok acuannya.
Mengonsumsi komoditas tertentu dapat memberikan identitas sosial. Jika tidak mengonsumsi barang atau jasa, seperti makanan atau pakaian mewah, Anda akan merasa tidak puas.
Penyebab gaya hidup konsumtif selanjutnya adalah seseorang yang membeli dan menggunakan barang atau jasa akibat terpengaruh sosok yang dihormati, dikagumi, atau diidolakan.
Sosok ini dapat menjadi role model dalam keseharian mereka, dan sebagai penggemar, mereka cenderung mengikuti gaya hidup sosok yang diidolakan tersebut.
Perilaku konsumtif dalam membeli atau memiliki barang dan jasa sering kali dipengaruhi oleh kebiasaan yang terjadi di lingkungan keluarga. Jika salah satu anggota keluarga merasa tersaingi, akan muncul kecenderungan untuk terus berbelanja hingga berlebihan, mudah tertarik saat melihat suatu barang.
Konsumsi berlebihan ini bahkan dilakukan sebagian orang tanpa memerhatikan manfaat suatu barang dan cenderung boros.
Di samping itu, perlu diketahui bahwa faktor perilaku konsumtif ini juga disebabkan oleh ketidakmampuan seseorang mengelola hasrat untuk berbelanja.
Gaya hidup konsumtif cenderung terjadi akibat sulitnya seseorang untuk mengontrol dirinya, sehingga keinginan berbelanja selalu muncul dari dalam dirinya.
Baca Juga: Rekomendasi Sepatu Lari Berdasarkan Jenis dan Tips Memilih
Gaya hidup konsumtif umum terjadi pada kelompok usia remaja hingga mengakar pada perilakunya sehari-hari akibat perilaku konsumtif. Beberapa dampak yang ditimbulkan antara lain:
Gaya hidup konsumtif dapat menciptakan masyarakat individual dan apatis. Bahkan, hubungan sosial dalam sebuah lingkungan bisa saja didasarkan atas kepentingan pribadi.
Gaya hidup ini juga dapat melemahkan ikatan keluarga maupun persahabatan. Sebab, fokus hidup seseorang dengan gaya hidup ini sudah beralih ke harta benda.
Seorang individu pun akan terasing dari lingkungan sosial, bahkan kehilangan makna kebahagiaan yang sebenarnya.
Seorang remaja atau kelompok usia lain yang terjebak gaya hidup ini bisa kesulitan menjadi diri sendiri akibat terus mengikuti tren populer dari berbagai content creator hanya untuk mendapat pengakuan dari lingkarannya.
Gaya hidup konsumtif juga dapat berdampak pada lingkungan. Pasalnya, banyak orang terjebak dalam siklus cepat untuk membeli dan membuang barang, atau budaya sekali pakai.
Kondisi ini menyebabkan tidak terkendalinya produksi massal, eksploitasi sumber daya alam berlebihan, penumpukan sampah di berbagai wilayah, hingga akhirnya pencemaran lingkungan dan kerusakan ekosistem.
Gaya hidup konsumtif pun bisa memberi dampak buruk pada keuangan atau finansial seseorang. Pasalnya, selalu ada dorongan untuk terus berbelanja bahkan terlilit utang yang merugikan dirinya sendiri.
Secara psikologis, gaya hidup konsumtif membuat seseorang mudah cemas dan depresi. Apalagi jika keinginan konsumsinya terhadap sesuatu tidak mampu dipenuhi.
Kondisi ini dapat memicu stres dan penyakit berbahaya bagi tubuhnya sebagai implikasi dari akumulasi stres.
Gaya hidup konsumtif yang berasal dari perilaku konsumtif cenderung banyak ditemui pada kalangan remaja. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak jangka panjang dan membentuk pola perilaku yang melekat hingga dewasa.
Berikut adalah beberapa contoh dari gaya hidup konsumtif yang perlu Anda ketahui agar tidak perlu terjebak dalam situasi yang sama:
Beberapa contoh utang konsumtif adalah membengkaknya tagihan akibat terbiasa membayar dengan kartu kredit tanpa pertimbangan matang untuk membeli gadget terbaru atau jalan-jalan ke luar negeri.
Memulai pinjaman online yang tidak resmi atau tanpa merencanakan cara melunasi pinjaman beserta bunganya juga dapat menjerat Anda ke dalam utang konsumtif.
Menyalahgunakan kredit tanpa agunan (KTA) atau sistem pay later untuk fashion, gadget, hingga kendaraan baru meskipun belum memerlukannya dapat membuat Anda terlilit utang konsumtif.
Seseorang juga dapat terjebak dalam gaya hidup konsumtif bila langganan gym eksklusif, transfer uang tak terkendali, nongkrong di kafe mahal setiap akhir pekan, hingga sering traveling ke luar kota atau ke luar negeri.
Mempertahankan gaya hidup ini dapat memicu stres karena tekanan finansial bahkan tidak punya dana darurat saat terjadi keadaan tak terduga.
Setiap individu juga rentan terjebak dalam gaya hidup konsumtif bila selalu membeli produk fashion, skincare, maupun produk elektronik terbaru yang sedang viral meskipun masih punya barang yang layak pakai.
Kebiasaan ini dapat mengakibatkan uang habis sebelum akhir bulan dan tidak punya cukup tabungan untuk kebutuhan lain lantaran uang habis untuk membeli barang-barang yang belum diperlukan.
Baca Juga: Jangan Salah, Begini Cara Pesan Tiket KAI Online yang Benar
Seseorang yang sudah punya kebiasaan gaya hidup konsumtif dapat diatasi dengan teknik self-management, yaitu teknik konseling untuk membantu dan mengarahkan seseorang mengatur tingkah lakunya.
Ada empat tahap dalam teknik self-management, antara lain:
Di tahap awal ini, konseli (seseorang yang berkonsultasi dengan konselor) perlu mengobservasi tentang diri sendiri dan interaksinya dengan lingkungan.
Konseli dapat mengumpulkan data yang berhubungan dengan perilaku yang ingin ia ubah.
Tahap ini berguna untuk memperkuat respons konseli yang diharapkan muncul menggunakan berbagai bentuk stimulus. Bentuknya berupa benda, makanan, simbol verbal, aktivitas fisik, maupun imajinasi.
Untuk tahap ini, konselor (seseorang yang memberikan layanan bimbingan atau konseling) akan mengarahkan seseorang merencanakan perubahan tingkah laku yang diinginkannya, misalnya, perilaku konsumtif yang menjadi kebiasaannya.
Tahap ini adalah tentang penyusunan kondisi lingkungan yang telah ditentukan yang membuat tingkah laku seseorang sebelumnya dapat dilakukan.
Pasalnya, kondisi lingkungan dapat menjadi penyebab atau anteseden dari respons tertentu.
Kendalikan diri dan hindari perilaku yang dapat menjebak Anda ke dalam gaya hidup konsumtif. Anda dapat memulainya dengan menabung lebih disiplin bersama Tabungan Berjangka Goal Savers.
Mulailah lebih disiplin untuk menabung harian, mingguan, maupun bulanan demi mencapai GOAL impian Anda! Anda bisa menabung dengan pilihan mata uang asing.
Setoran rutin bulanan akan didebit sistem serta pencairan saat jatuh tempo secara otomatis. Anda juga bisa mengaksesnya 24/7 dari Aplikasi OCTO atau Website OCTO untuk memantau perkembangan GOAL impian.
Raih GOAL impian Anda bersama Tabungan Berjangka Goal Savers. Simak syarat dan ketentuan, fitur-fitur, serta cara-cara memulainya.
Nikmati suku bunga menarik dan kompetitif yang membuat dana tabungan Anda berkembang lebih optimal. Info detail bunga tabungan klik di sini
Ambil Promo Spesial CIMB Niaga Sekarang Juga