03 Feb 2026
Manufaktur Ekspansi Enam Bulan Berturut-turut
Kita mengawali tahun 2026 dengan pijakan fundamental yang jauh lebih solid dari perkiraan banyak pihak. Data terbaru menunjukkan bahwa mesin ekonomi Indonesia tidak sedang melambat, melainkan justru menemukan momentum percepatan yang meyakinkan.
Sektor manufaktur sebagai tulang punggung ekonomi riil berhasil mencatatkan kinerja gemilang dengan Indeks PMI S&P Global yang melesat ke level 52,6 pada Januari. Angka ini naik signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di posisi 51,2 dan menandai ekspansi selama enam bulan berturut turut.
Permintaan domestik yang tangguh terbukti menjadi jangkar utama di tengah ketidakpastian pasar global yang masih membayangi.
Anomali Data Inflasi
Hal yang paling menarik perhatian bulan Januari 2026 adalah anomali pada data inflasi. Investor pemula mungkin akan terkejut melihat inflasi tahunan yang menanjak ke level 3,55 persen. Namun sebagai investor yang cerdas kita perlu melihat melampaui angka utama tersebut.
Kenaikan ini sejatinya adalah distorsi statistik akibat efek basis rendah atau low base effect pada awal tahun lalu saat pemerintah memberikan diskon tarif listrik. Realitas sesungguhnya di lapangan justru menunjukkan harga harga makin terkendali. Secara bulanan kita bahkan mencatat deflasi sebesar 0,15 persen. Penurunan harga pangan bergejolak seperti cabai dan daging ayam pasca liburan serta penyesuaian harga bahan bakar non subsidi sukses meredam tekanan biaya hidup.
Rekor Neraca Perdagangan Surplus di Perpanjang
Kabar baik lainnya datang dari ketahanan sektor eksternal Indonesia. Neraca perdagangan kembali mencetak surplus sebesar 2,51 miliar Dolar AS pada Desember 2025. Capaian ini memperpanjang rekor surplus Indonesia menjadi enam puluh delapan bulan tanpa putus sejak pandemi.
Jika diakumulasikan sepanjang tahun 2025 total surplus perdagangan Indonesia menembus angka fantastis 41,05 miliar Dolar AS. Kinerja ekspor non migas terutama lemak dan minyak nabati serta besi baja masih menjadi pahlawan devisa yang menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah tetap perkasa.
Bagi strategi portofolio, implikasinya sangat jelas dan positif. Kombinasi deflasi bulanan dan inflasi inti yang stabil di kisaran 2,38 persen menciptakan lingkungan yang sangat kondusif bagi pasar obligasi. Surat utang negara kini menawarkan imbal hasil riil yang semakin menarik karena inflasi yang terkendali.
Sementara itu ekspansi manufaktur yang kuat menjadi sinyal beli yang valid bagi pasar saham terutama untuk emiten di sektor industri dan konsumer yang sensitif terhadap pertumbuhan ekonomi. Ini adalah waktu yang menarik untuk menata ulang alokasi aset dan memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi ini.
Berikut Reksa Dana Pendapatan Tetap yang rutin membagikan PHI (Pembagian Hasil Investasi). |
Berikut Reksa Dana Saham yang NAV-nya telah lebih murah 3% lebih dalam 1 bulan terakhir pada 30 Januari 2026. |
|
|
Download versi PDF di sini!