25 September 2026
Market review
Kombinasi kenaikan suku bunga, indeks saham, dan mata uang dari suatu negara adalah pertanda dari tingginya apresiasi investor dunia pada kinerja ekonomi negara tersebut. Ketiga hal ini terjadi pada Amerika Serikat pada tahun ini. Kenaikan suku bunga dan saham di AS, serta mata uang dolar yang menguat terjadi baik dari segi posisi saat ini dibandingkan dengan posisi awal tahun, maupun dari segi rata-rata bulanannya.
Suku bunga acuan Federal Reserve dan yield obligasi pemerintah AS cenderung naik sejak awal tahun hingga bulan September ini. Di akhir bulan September, tingkat suku bunga The Fed sebesar 4,0%, naik dari 3,75% di awal tahun. Pada saat yang sama, yield obligasi pemerintah AS tenor 2, 10, dan 30 tahun, naik masing-masing 142 bps, 101 bps, dan 62 bps, ke posisi 4,90%, 5,14%, dan 5,44%.
Selanjutnya, indeks saham AS cenderung menguat di tahun 2026. Di akhir bulan September, indeks saham S&P 500 sebesar 7.706 naik dari 6.930 di awal tahun. Indeks dolar AS secara umum juga meningkat tahun ini, walaupun bergerak fluktuatif. Di akhir bulan ini, indeks dolar AS sebesar 101,2 naik dari 98,0 di awal tahun.
Rentang perdagangan USD/IDR pada hari ini diperkirakan antara 17.750 – 18.050. Pada hari Kamis kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) berada pada 17.898.
Pasar Obligasi Negara Indonesia – Indikasi yield pada penutupan di hari Kamis adalah 6,66% (1Y), 6,85% (3Y), 7,0% (5Y), 7,11% (10Y), dan 7,18% (20Y). Kemarin, yield bergerak naik rata-rata 9 bps antara tenor 3 dan 30 tahun. Kenaikan yield yang lebih besar pada tenor 3, 5, dan 10 tahun.
Arus dana asing di pasar modal Indonesia turun berdasarkan data terakhir. Indeks saham IHSG ditutup turun 76 poin pada posisi 6.299, pada tanggal 24 September 2026, dan kepemilikan asing pada pasar saham Indonesia tercatat turun IDR 1,5 triliun.
Baca lebih lanjut, klik disini