Kamu dapat merubah warna website ini sesuai dengan Mood dan kenyamananmu.
Situs ini menggunakan cookies untuk meningkatkan pengalaman Anda.
Dengan menggunakan situs ini, Anda telah menyetujui penggunaan cookies dari Kami.
11 Agustus 2026
Market review
Data inflasi Amerika Serikat (AS) diharapkan memberikan kejelasan mengenai kondisi ekonomi di saat data pasar tenaga kerja AS mulai melemah dan di tengah turunnya harga energi dunia tetapi dihadapkan dengan suku bunga pasar dolar AS (USD) yang tetap bertahan di level tinggi. Biasanya suku bunga pasar keuangan akan bergerak menurun ketika kondisi pasar tenaga kerja melemah dan harga energi dunia menurun. Kondisi suku bunga pasar USD yang tetap tinggi seakan-akan menunjukkan bahwa tekanan inflasi di AS tetap tinggi walaupun kondisi pasar tenaga kerjanya melemah. Pasar seakan bersiap menghadapi risiko stagflasi di AS.
Inflasi AS diperkirakan sebesar 3,4% year-on-year (YoY) di bulan Juli 2026, paling rendah dalam tiga bulan, berdasarkan konsensus prediksi ekonom di Bloomberg. Inflasi yang diperkirakan menurun di bulan Juli tersebut menyertai turunnya harga minyak dunia (Brent) ke kisaran USD 81/barel di bulan Juli dari USD 95/barel di bulan Juni.
Namun demikian, rata-rata yield obligasi pemerintah AS tenor 2 dan 10 tahun di bulan Juli tetap berada di atas bulan Juni. Yield obligasi AS tenor 2 tahun berada di kisaran 4,17% di bulan Juli, naik dari 4,06% di bulan Juni. Selain itu, yield obligasi AS tenor 10 tahun berada di kisaran 4,55% di bulan Juli, naik dari level 4,49% di bulan Juni.
Risiko stagflasi di AS yang tercermin dari reaksi di pasar keuangan ini nampaknya berangkat dari sikap Federal Reserve (The Fed) yang memilih untuk menahan tingkat suku bunga acuan walaupun inflasi AS bertahan jauh di atas target The Fed. Pelaku pasar keuangan global mungkin menilai bahwa tidak ada jaminan dari The Fed untuk bertindak tegas dan cepat dalam upaya pengendalian inflasi di AS.
Rentang perdagangan USD/IDR pada hari ini diperkirakan antara 17.725 – 17.925. Pada hari Senin kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) berada pada 17.795.
Pasar Obligasi Negara Indonesia – Indikasi yield pada penutupan di hari Senin adalah 6,81% (1Y), 6,97% (3Y), 7,12% (5Y), 7,15% (10Y), dan 7,21% (20Y). Kemarin, yield turun rata-rata 6 bps di sepanjang kurva dengan penurunan lebih besar pada tenor 7 tahun.
Pada hari ini, pemerintah akan melaksanakan lelang reguler obligasi syariah dengan target IDR 10 triliun. Obligasi yang ditawarkan adalah SPNS Sep’26, Feb’27, dan Apr’27, PBS30 (2028), PBS40 (2030), PBSG02 (2033), PBS34 (2039), dan PBS38 (2049).
Arus dana asing di pasar modal Indonesia relatif stabil berdasarkan data terakhir. Indeks saham IHSG ditutup turun 44 poin pada posisi 6.365, pada tanggal 10 Agustus 2026, sedangkan kepemilikan asing pada pasar saham Indonesia tercatat naik IDR 830 miliar
.
Baca lebih lanjut, klik disini