27 Maret 2026
Market review
Ketidakpastian menyelimuti prospek kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, memicu kekhawatiran baru di pasar global. Dialog yang stagnan dan tensi geopolitik yang belum mereda menciptakan spekulasi negatif bagi para investor. Kondisi ini memperburuk sentimen risiko karena potensi stabilitas di kawasan Timur Tengah kembali dipertanyakan.
Sebagai dampak langsung, harga minyak mentah Brent mengalami lonjakan signifikan ke sekitar USD 109/barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan. Fenomena ini berjalan beriringan dengan kenaikan imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun ke level 4,42% dan penguatan indeks dolar ke sekitar 100,0. Kombinasi ketiganya menunjukkan adanya pergeseran modal ke aset aman (safe haven) serta antisipasi pasar terhadap tekanan inflasi global yang lebih tinggi.
Sentimen negatif tersebut memberikan tekanan besar pada pasar ekuitas, menyebabkan indeks saham S&P 500 terkoreksi tajam semalam (-1,74%). Para pelaku pasar cenderung menarik diri dari aset berisiko karena biaya pinjaman yang meningkat dan prospek ekonomi yang penuh ketidakpastian. Secara keseluruhan, pasar saat ini berada dalam posisi defensif menghadapi dinamika makroekonomi dan geopolitik yang dinamis.
Rentang perdagangan USD/IDR pada hari ini ini diperkirakan antara 16.800 – 17.100. Pada hari Kamis kurs JISDOR Bank Indonesia (BI) berada pada 16.903.
Pasar Obligasi Negara Indonesia – Indikasi yield pada penutupan di hari Kamis adalah 5,71% (1Y), 6,38% (3Y), 6,51% (5Y), 6,82% (10Y), dan 6,85% (20Y). Kemarin, yield turun rata-rata 9 bps antara tenor 5 - 30 tahun dan tenor 1 tahun turun 24 bps. Di sisi lain, yield obligasi tenor 3 tahun naik 6 bps.
Arus dana asing di pasar modal Indonesia turun sangat banyak berdasarkan data terakhir. Indeks saham IHSG ditutup turun 138 poin pada posisi 7.164, pada tanggal 26 Maret 2026, dan kepemilikan asing pada pasar saham Indonesia tercatat turun IDR 20,7 triliun.
Baca lebih lanjut, klik disini