“Resesi adalah kondisi ekonomi suatu negara yang menurun selama dua kuartal berturut-turut. Kondisi ini ditandai dengan menurunnya PDB, daya beli, dan meningkatnya pengangguran.”
Resesi adalah istilah yang sering muncul dan dibicarakan banyak orang beberapa tahun terakhir. Apalagi ketika tahun 2020 hingga 2021, di mana Indonesia mengalaminya karena terdampak pandemi COVID-19 dan gejolak politik yang terjadi pada tahun tersebut.
Namun, sebenarnya apa yang dimaksud dengan resesi? Kenapa situasi tersebut membuat banyak orang menahan uangnya untuk menabung, termasuk menyiapkan dana darurat dan mulai mencari pekerjaan sampingan? Berikut penjelasannya.
Resesi adalah menurunnya aktivitas ekonomi di suatu negara selama dua kuartal berturut-turut. Penurunan ini dilihat dari lesunya Produk Domestik Bruto (PDB), meningkatnya pengangguran, dan menurunnya daya beli masyarakat.
Resesi berdampak langsung ke berbagai sektor kehidupan. Mulai dari produksi industri, sektor perdagangan, hingga rumah tangga. Dampak lainnya yang bisa dilihat secara langsung adalah banyaknya perusahaan yang melakukan pengurangan tenaga kerja dengan alasan efisiensi anggaran.
Ketidakpastian situasi ekonomi tersebut akhirnya membuat masyarakat lebih berhati-hati ketika menggunakan uangnya untuk belanja. Hal itulah yang membuat perputaran uang dan perekonomian jadi melambat.
Resesi adalah kondisi ketidakstabilan ekonomi yang tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada beberapa indikator yang menjadi penentu dan awal dari terjadinya resesi.
Indikator utama terjadinya resesi adalah melihat naik atau turunnya PDB. Jika PDB menurun selama dua kuartal berturut-turut, maka itu sudah pasti menjadi sinyal utama suatu negara sedang berada diambang batas resesi.
Resesi adalah kondisi ketika melambatnya perputaran uang yang berakhir dengan melemahkan perekonomian.
Jika ekonomi melemah, maka banyak perusahaan yang akan mulai untuk menerapkan efisiensi biaya untuk bertahan. Salah satu cara yang umumnya digunakan adalah dengan melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).
Akibat dari PHK adalah meningkatnya jumlah pengangguran secara signifikan, sedangkan lapangan kerja untuk menyerap pengangguran telah berkurang.
Kondisi tersebut pada akhirnya memperburuk kondisi ekonomi keluarga dan berdampak secara menyeluruh.
Perilaku masyarakat secara umum yang bisa menjadi pertanda resesi adalah menahan uangnya untuk belanja sesuatu. Hal itu akan berdampak pada penurunan penjualan ritel hingga lesunya sektor manufaktur.
Jika masyarakat sudah mengalami hal tersebut, di sektor rumah tangga sekalipun, maka tidak mungkin negara tersebut mengalami resesi.
Indikator lain yang menjadi tanda-tanda terjadinya resesi adalah inflasi dan deflasi ekstrem. Inflasi ekstrem bisa membuat daya beli masyarakat melemah, sedangkan deflasi yang ekstrem bisa memperburuk perlambatan ekonomi.
Jika salah satu hal tersebut terjadi, maka bisa jadi sinyal kuat tidak sehatnya kondisi perekonomian suatu negara. Untuk mengatasinya, perlu dicari solusi dari sisi kebijakan fiskal dan moneter.
Salah satu sinyal lain dari resesi adalah ketidakpastian pasar finansial. Ketidakpastian pasar finansial bisa ditandai dengan fluktuasi tajam di pasar saham, melemahnya nilai tukar, hingga menurunnya investasi asing.
Biasanya para investor asing memilih untuk menarik dananya dari negara yang mengalami resesi karena meminimalisir risiko dari rendahnya stabilitas ekonomi di negara tujuan investasinya.
Baca Juga: 5 Jenis Usaha yang Tidak Pernah Sepi
Tidak terjadi tiba-tiba, penyebab dari terjadinya resesi adalah kumpulan dari berbagai faktor yang saling berkaitan. Berikut adalah beberapa penyebab umum yang sering memicu terjadinya resesi di suatu negara:
Resesi adalah kondisi di mana pertumbuhan ekonomi terhambat karena suku bunga naik ketika inflasi tinggi sedang terjadi. Kondisi tersebut membuat biaya pinjaman meningkat, konsumsi dan investasi menurun, dan lambatnya laju perekonomian, yaitu resesi tidak bisa dihindari.
Krisis Subprime Mortgage adalah contoh nyata dari krisis keuangan sehingga memicu resesi global.
Resesi adalah kondisi di mana aktivitas ekonomi melemah secara signifikan dalam jangka waktu tertentu, dan dalam kasus Subprime Mortgage, menggelembungnya aset, kegagalan lembaga keuangan, serta penurunan kepercayaan pasar menjadi pemicu utama terjadinya krisis keuangan yang berujung pada resesi.
Penyebab terjadinya resesi adalah adanya pandemi dan bencana global seperti pandemi COVID-19.
Peristiwa tersebut mengakibatkan terganggunya aktivitas ekonomi secara masif yang menyebabkan pembatasan sosial, penutupan usaha, dan gangguan rantai pasok menyebabkan banyak negara mengalami resesi.
Resesi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi melambat secara luas karena dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kondisi ketegangan geopolitik atau perang dagang antar negara besar.
Bagi negara-negara berkembang ketegangan politik atau perang dagang dapat mengganggu stabilitas perdagangan dan rantai pasok global. Hal ini berdampak langsung pada ekspor dan impor yang berujung pada terjadinya resesi.
Resesi adalah salah satu konsekuensi dari perlambatan ekonomi global yang berkepanjangan. Di Indonesia sendiri, proyeksi resesi sering kali dikaitkan dengan turunnya permintaan global, ketidakstabilan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta defisit neraca perdagangan.
Situasi ini membuat Indonesia lebih rentan terhadap tekanan ekonomi eksternal dan meningkatkan risiko terjadinya resesi dalam negeri.
Resesi adalah kondisi yang bisa menimbulkan ketidakpastian sosial dan memberikan dampak utama seperti berikut:
Resesi berdampak langsung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal karena banyak perusahaan mengurangi aktivitas produksi bahkan menutup operasionalnya.
Akibatnya, jumlah pengangguran meningkat tajam dan mendorong lonjakan angka kemiskinan karena masyarakat kehilangan sumber penghasilan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Saat resesi terjadi, pendapatan masyarakat menurun dan ketidakpastian ekonomi akan membuat banyak orang untuk lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang.
Pada kondisi seperti ini, masyarakat juga fokus memenuhi kebutuhan pokok dan menunda pengeluaran sekunder atau tersier. Hal itu membuat roda ekonomi terhambat dan melemah.
Ketidakpastian yang tinggi membuat investor cenderung menahan diri untuk menanamkan modal di sektor riil, seperti industri, manufaktur, dan infrastruktur. Kondisi ini tentunya membuat prospek keuntungan tidak pasti, sehingga minat investasi pun menurun.
Akibatnya, banyak rencana ekspansi usaha yang tertunda atau dibatalkan dan berdampak pada berkurangnya penyerapan tenaga kerja baru, stagnasi produksi, serta melemahnya daya saing sektor riil dalam jangka panjang.
Ketika resesi, banyak pelaku usaha, terutama UMKM mengalami penurunan omset secara drastis. Alhasil mereka tidak mampu memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman yang telah diambil sebelumnya.
Hal ini menyebabkan meningkatnya angka kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) di berbagai lembaga keuangan. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa menimbulkan efek domino pada sektor keuangan dan kestabilan ekonomi nasional.
Resesi membuat banyak debitur gagal bayar, sehingga kredit bermasalah (NPL) meningkat. Di sisi lain, masyarakat panik dan menarik simpanan mereka, menyebabkan likuiditas bank terganggu.
Tekanan ini memberatkan sistem perbankan, terutama yang punya modal terbatas. Jika tidak ditangani cepat, risikonya bisa meluas dan memicu krisis di sektor lain.
Untuk menghadapi resesi, Anda memerlukan kesiapan, terutama dalam mengelola keuangan pribadi. Berikut adalah beberapa cara yang bisa dicoba:
Resesi adalah kondisi di mana kondisi perekonomian suatu negara melesu, pendapatan menurun, dan tingginya risiko akan kehilangan pekerjaan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, cara mudah yang bisa dilakukan adalah dengan menyiapkan dana darurat.
Dana darurat adalah simpanan yang bisa digunakan dalam kondisi mendesak, seperti kehilangan pekerjaan atau biaya kesehatan tak terduga. Idealnya, dana darurat disimpan dalam tabungan digital dan nominalnya sebesar 3–6 bulan biaya hidup sehari-hari.
Selain dana darurat, cara untuk menghadapi resesi adalah mulai berinvestasi. Berinvestasi bisa melindungi nilai aset dari inflasi.
Untuk memulai berinvestasi menghadapi resesi, Anda bisa memilih instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko atau rendahnya risiko seperti reksa dana, pasar uang, atau obligasi negara.
Hal yang bisa dilakukan untuk mengatur uang ketika atau mengantisipasi resesi adalah menghindari hutang konsumtif dan melunasi cicilan hutang yang tidak produktif, seperti kartu kredit.
Anda harus tahu, hutang yang tidak disertai dengan nilai aset atau penghasilan, malah akan membebani keuangan ketika kondisi ekonomi terburuk.
Mencari penghasilan tambahan juga bisa menjadi solusi ketika kondisi ekonomi sedang tidak baik. Beberapa pekerjaan yang bisa Anda coba untuk mendapatkan penghasilan tambahan adalah freelance, menjual produk digital, atau mulai menjalankan usaha kecil-kecilan.
Hal terakhir yang bisa dicoba dan diterapkan untuk menghadapi resesi adalah mengatur pengeluaran. Mulai buat anggaran bulanan dan bedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Selain itu, hindari untuk membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan, dan evaluasi anggaran keuangan tersebut dengan berkala biar tetap efisien dan adaptif terhadap situasi ekonomi yang tidak pasti.
Resesi adalah situasi ekonomi yang tidak bisa dihindari dan harus dihadapi. Namun untuk menghadapi resesi, diperlukan perencanaan dan strategi keuangan yang tepat.
Untuk merencanakan keuangan dengan tenang di tengah ketidakpastian ekonomi, Anda bisa menabung dan mempercayakan OCTO Savers+ dari CIMB Niaga.
OCTO Savers+ dari CIMB Niaga adalah tabungan digital praktis dilengkapi dengan fitur pengelolaan finansial yang membantu Anda tetap mengontrol keuangan dengan mudah di masa sulit.
Anda juga bisa menabung dengan disiplin secara harian, mingguan, hingga bulanan bersama OCTO Goal Savers. Tabungan dari CIMB Niaga yang juga bisa bantu Anda menabung valuta asing biar tabungan makin untung buat jadi simpanan di masa ketidakpastian ekonomi dan masa depan yang mendatang.
Jadi tunggu apalagi? Kini saatnya mulai melangkah mengatur perencanaan finansialmu dengan aman bersama CIMB Niaga.
Yuk mulai lipat gandakan aset kalian dengan investasi di Deposito Berjangka!
Ambil Promo Spesial CIMB Niaga Sekarang Juga