“Dalam persaingan bisnis, menghitung biaya secara akurat sangat penting. Metode Activity-Based Costing (ABC) membantu perusahaan memahami biaya berdasarkan aktivitas yang sebenarnya digunakan”
Berbeda dengan pendekatan tradisional, ABC memungkinkan perusahaan menelusuri biaya berdasarkan aktivitas yang benar-benar digunakan oleh produk atau layanan.
Hal ini sama pentingnya dengan memahami solusi keuangan seperti pembiayaan atau kredit syariah untuk mendukung pengelolaan modal usaha secara bijak.
Activity-Based Costing (ABC) adalah suatu metode akuntansi biaya yang mengidentifikasi berbagai aktivitas dalam suatu organisasi dan mengalokasikan biaya overhead berdasarkan aktivitas terhadap produk atau layanan.
Metode ini menggunakan cost driver (induktor biaya) untuk mengaitkan biaya tak langsung (seperti listrik, pemeliharaan, inspeksi) ke objek biaya (produk/jasa) berdasarkan penggunaan nyata aktivitas tersebut.
Activity-Based Costing penting untuk dipahami dalam manajemen keuangan. Berikut beberapa fungsi dari Activity-Based Costing yang perlu Anda pahami;
ABC mengurangi penyimpangan dalam pembebanan biaya karena tidak lagi bergantung hanya pada volume produksi.
Ini sangat membantu dalam industri dengan berbagai produk kompleks yang menggunakan sumber daya secara berbeda.
Dengan mengenali aktivitas yang paling banyak menyedot biaya, manajemen dapat mengevaluasi efisiensi proses.
Hal ini membuka peluang penghematan biaya melalui pengurangan aktivitas yang tidak bernilai tambah.
Informasi biaya yang lebih tepat membantu perusahaan menetapkan harga jual yang lebih adil dan kompetitif.
Selain itu, ABC mendukung penilaian profitabilitas pelanggan, produk, atau kanal distribusi secara detail.
Dengan menelusuri biaya berdasarkan aktivitas, organisasi dapat melihat kontribusi masing-masing departemen terhadap total biaya.
Hal ini mendukung akuntabilitas internal dan koordinasi lintas fungsi.
ABC membantu mengidentifikasi aktivitas yang boros atau tidak produktif.
Informasi ini dapat digunakan untuk proses continuous improvement atau penerapan lean management.
Secara umum, ABC bekerja melalui lima langkah utama yang bertujuan memberikan gambaran biaya yang lebih akurat:
Langkah pertama adalah mengidentifikasi semua aktivitas signifikan yang terjadi dalam proses produksi atau penyediaan jasa.
Aktivitas ini bisa mencakup seperti setup mesin, inspeksi kualitas, penanganan bahan, atau pengiriman produk. Masing-masing aktivitas diperlakukan sebagai unit kerja yang mengonsumsi sumber daya.
Setelah aktivitas diidentifikasi, biaya yang berkaitan dengan aktivitas tersebut dikumpulkan ke dalam cost pools (kelompok biaya).
Setiap cost pool mewakili satu jenis aktivitas yang memiliki kesamaan dalam pemakaian sumber daya.
Misalnya, biaya semua aktivitas setup mesin dikelompokkan ke dalam satu pool. Ini memudahkan dalam menentukan tarif biaya untuk tiap aktivitas secara terpisah.
Setiap aktivitas kemudian dikaitkan dengan satu atau lebih cost drivers, yaitu faktor penyebab timbulnya biaya. Contohnya, jumlah jam mesin dapat menjadi cost driver untuk aktivitas penggunaan mesin.
Pemilihan driver yang tepat sangat penting agar alokasi biaya mencerminkan penggunaan aktual sumber daya. Cost driver yang relevan membuat hasil akhir lebih representatif.
Setelah mengetahui total biaya tiap cost pool dan jumlah unit cost driver yang digunakan, perusahaan menghitung activity rate.
Rumusnya sederhana: total biaya aktivitas dibagi total unit driver. Misalnya, jika total biaya setup $100.000 dan dilakukan 500 kali setup, maka tarif aktivitas adalah $200 per setup.
Tarif inilah yang nantinya digunakan untuk mengalokasikan biaya ke produk atau layanan.
Terakhir, biaya dari tiap aktivitas dialokasikan ke produk atau jasa berdasarkan seberapa banyak mereka menggunakan cost driver.
Jika suatu produk menggunakan lebih banyak aktivitas setup, maka akan mendapat proporsi biaya setup yang lebih besar.
Proses ini dilakukan untuk seluruh aktivitas yang terlibat. Hasil akhirnya adalah perhitungan biaya yang jauh lebih akurat dibanding metode konvensional.
Langkah perhitungan Activity-Based Costing dilakukan secara sistematis agar alokasi biaya overhead dapat mencerminkan konsumsi nyata dari aktivitas yang digunakan. Berikut adalah tahapan lengkapnya:
Langkah pertama adalah mengidentifikasi aktivitas-aktivitas utama yang terjadi dalam proses operasional, baik produksi maupun layanan.
Setelah itu, biaya-biaya yang terkait dengan aktivitas-aktivitas tersebut dikelompokkan ke dalam cost pools. Setiap cost pool mewakili satu jenis aktivitas dan akan dihitung secara terpisah.
Setelah cost pool terbentuk, Anda perlu menentukan cost driver, faktor penyebab utama yang memicu timbulnya biaya aktivitas. Cost driver harus memiliki hubungan logis dan terukur dengan aktivitas yang dimaksud.
Misalnya, jumlah batch produksi dapat menjadi driver untuk aktivitas setup, sedangkan jumlah inspeksi menjadi driver untuk aktivitas kontrol kualitas.
Pemilihan driver yang tepat sangat penting karena memengaruhi keakuratan alokasi biaya ke produk.
Di tahap ini, total biaya untuk masing-masing aktivitas dikumpulkan, baik biaya langsung maupun overhead yang relevan.
Misalnya, biaya tenaga kerja teknisi untuk setup, biaya listrik selama inspeksi, atau biaya bahan habis pakai saat pemeliharaan mesin.
Total ini mencerminkan seluruh sumber daya yang digunakan oleh aktivitas tersebut dalam satu periode akuntansi (bulanan, kuartalan, atau tahunan).
Setelah total biaya dan volume cost driver diketahui, langkah berikutnya adalah menghitung tarif per unit aktivitas. Rumusnya adalah:
Activity Rate = Total Cost Pool/Jumlah Unit Cost Driver
Sebagai contoh, jika total biaya aktivitas setup adalah $100.000 dan terjadi 500 setup, maka activity rate-nya adalah $200 per setup. Tarif ini akan digunakan untuk menghitung biaya yang dialokasikan ke setiap produk.
Langkah terakhir adalah mengalikan activity rate dengan jumlah unit driver yang digunakan oleh setiap produk.
Misalnya, jika Produk A membutuhkan 100 setup, maka biaya setup yang dialokasikan adalah 100 × $200 = $20.000. Proses ini dilakukan untuk semua aktivitas yang digunakan produk tersebut.
Hasil akhirnya adalah total biaya aktivitas yang dikonsumsi oleh produk, sehingga menghasilkan informasi biaya produk yang jauh lebih presisi daripada pendekatan tradisional.
Sebagai ilustrasi perhitungan metode ABC, misalkan sebuah perusahaan mengeluarkan total biaya listrik sebesar Rp50.000.000 dalam setahun.
Biaya listrik ini dipengaruhi langsung oleh jumlah jam kerja karyawan, yang dalam setahun tercatat sebanyak 2.500 jam. Dalam hal ini, jam kerja digunakan sebagai cost driver.
Langkah pertama adalah menghitung cost driver rate, yaitu dengan membagi total biaya listrik dengan jumlah jam kerja.
Cost Driver Rate = Rp.50.000.000/2.500= Rp.20.000 per jam kerja
Selanjutnya, untuk menghitung biaya berdasarkan aktivitas (activity-based cost), tarif ini digunakan untuk mengalokasikan biaya listrik ke produk. Misalnya, jika produk A memerlukan waktu pengerjaan selama 15 jam, maka:
Biaya Overhead Produk A = 15 Rp.20.000 = Rp.300.000
Artinya, biaya listrik yang dialokasikan ke produk A berdasarkan konsumsi aktivitasnya adalah sebesar Rp300.000.
Kelola transaksi bisnis B2B Anda dengan lebih efisien melalui E-Chain CIMB Niaga. Solusi Cash Management ini akan menyederhanakan seluruh proses rantai pasok Anda, dari pemesanan hingga pembayaran.
Keunggulan E-Chain:
Jangan biarkan proses manual menghambat bisnis Anda. Tingkatkan efisiensi sekarang! Optimalkan rantai pasok Anda dengan E-Chain CIMB Niaga.
Beragam keuntungan dalam setiap transaksi
Kemudahan dalam mengelola modal usaha Anda secara lebih efektif dan efisien Periode Program: 1 Januari - 31 Maret 2026
Merupakan solusi finansial terbaik untuk mata rantai bisnis Anda dari hulu ke hilir.
Praktis, Menguntungkan, Tanpa Plastik Info produk OCTO Card Syariah klik di sini
Ambil Promo Spesial CIMB Niaga Sekarang Juga